Monday, September 22, 2014

Manusia dan Sejarah

“Hai guys,..... sejarah kelas x .blogspot.com kali ini akan membahas tentang Manusia dan Sejarah. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian dalam mengamati, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan  data  lanjutan, mengasosiasi serta mengkomunikasikan hasil analisis dalam bentuk tulisan tentang mengenai keterkaitan antara aktivitas manusia yang terbatas dalam ruang dan waktu, dalam perubahan, dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia di masa kini.”

Kata sejarah diambil dari syajarah (bahasa Arab) yang berarti pohon. Dalam bahasa Inggris history yang berasal dari Yunani historia yang berarti inkuiri (inquiry), wawancara (interview), interogasi dari seorang saksi mata dan juga laporan mengenai hasil-hasil tindakan itu.  Dari bahasa Yunani istilah historia masuk ke bahasa-bahasa lain, terutama melalui perantaraan bahasa Latin. Dalam bahasa Latin, maknanya masih sama seperti dalam bahasa Yunani. Tekanannya lebih pada pengamatan langsung, penelitian, dan laporan-laporan hasilnya (Sjamsudin 2012:1-3).

Tacitus (69-96?) seorang sejarawan pada masa Romawi menggunakan istilah historia untuk judul bukunya Historiae. Di dalam buku itu Tacitus menulis laporan-laporan hasil pengamatannya secara pribadi. Selain itu dia juga menulis laporan-laporan mengenai periode lebih awal (14-68 M) yang diberinya judul Annales (Sjamsudin 2012:2).  Pada masa ini historia belum digunakan untuk menunjukkan peristiwa di masa lampau.

Dalam perkembangannya, konsep history (sejarah) mendapat suatu pengertian baru setelah terjadi percampuran antara penulisan kronikel yang ketat secara kronologis dan narasi-narasi sejarah yang bebas. Pada abad pertengahan hal itu dikenal dengan biografi yang juga disebut vitae. Kelak penulisan biografi, khususnya biografi orang besar, menyebabkan sejarawan Inggris Thomas Carlyle (1841) mengatakan bahwa sejarah sebagai ‘riwayat hidup orang-orang besar atau pahlawan’ semata. Tanpa mereka tidak ada sejarah.

Namun, sejarah memang tidak hanya untuk orang-orang/individu tertentu (orang-orang besar), seperti Socrates, Julius Caesar, Gajah Mada, Napoleon, Soekarno.  Sejarah juga membahas kelompok masyarakat. Dalam hal ini manusia.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sejarah merupakan ilmu tentang manusia. Namun, juga bukan cerita tentang masa lalu manusia secara keseluruhan. Demikian pula dengan manusia yang menjadi obyek penelitian antropologi ragawi, seperti  hasil penelitian Steve Olson dalam Mapping Human History (2006) yang berhasil melacak asal usul manusia modern di empat benua dan penyebarannya di seluruh dunia selama lebih dari 150.000 tahun silam. Hal tersebut bukanlah sejarah.

Manusia dan sejarah tidak dapat dipisahkan, sejarah tanpa manusia adalah khayal. Manusia dan sejarah merupakan kesatuan dengan manusia sebagai subyek dan obyek sejarah. Bila manusia dipisahkan dari sejarah maka ia bukan manusia lagi, tetapi sejenis mahluk biasa, seperti hewan (Ali 2005:101)

Di sini ingatan manusia memegang peranan penting. Ingatan itu digunakan manusia untuk menggali kembali pengalaman yang pernah dialaminya. Mengingat berarti mengalami lagi, mengetahui kembali sesuatu yang terjadi di masa lalu. Namun ingatan manusia terbatas sehingga perlu alat bantu yaitu tulisan yang berfungsi untuk menyimpan ingatannya. Dengan tulisan, manusia mencatat pengalamannya. Pengalaman yang dialami manusia, dituturkan kembali dengan menggunakan bahasa (Ali 2005:101)

Sejarah merupakan pengalaman manusia dan ingatan manusia yang diceritakan. Dapat dikatakan bahwa manusia berperan dalam sejarah yaitu sebagai pembuat sejarah karena manusia yang membuat pengalaman menjadi sejarah. Manusia adalah penutur sejarah yang membuat cerita sejarah sehingga semakin jelas bahwa manusia adalah sumber sejarah (Ali 2005:102)

Sumber :

Referensi :
  • Abdullah, Taufik (ed.). 2010. Indonesia dalam Arus Sejarah. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve
  • Ali. R. Moh. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. diterbitkan pertama kali 1963 oleh Bharata Jakarta. Yogyakarta: LKIS.
  • Boydston, Jo Ann (ed).1976. John Dewey. The middle works 1899-1924. Vol 2. SIU Press.
  • Gottschalk, Louis. 1986. Mengerti Sejarah. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
  • Hasan, Hamid.S. 2010. “Pendidikan Sejarah: Kemana dan Bagaimana? ” dalam Jurnal Pendidikan Sejarah AGSI. Jakarta: Asosiasi Guru Sejarah Indonesia & Institut Sejarah Sosial Indonesia.
  • Kartodirdjo, Sartono.1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta:Gramedia.
  • Kuntowijoyo, 2001. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang
  • Olson, Steven. 2006. Mapping Human History. terjm. Jakarta: Serambi.
  • Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasiona Indonesia I – VII, Jakarta: Departemen Pendidikan & Kebudayaan - Balai Pustaka
  • Sjamsudin, Helius. 2012. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak

Kerajaan - Kerajaan Islam di Nusantara

“Hai guys,..... sejarah kelas x .blogspot.com kali ini akan membahas tentang perkembangan kebudayaan pada masa Islam masuk Ke Indonesia. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian semua dalam proses masuk dan berkembangnya agama serta kebudayaan Islam di Indonesia.”

Masuknya Islam membawa perubahan di berbagai bidang Pemerintahan di Nusantara. Diantaranya adalah munculnya kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam, antara lain :
  1. Kerajaan Aceh klik untuk melihat
  2. Kerajaan Banten klik untuk melihat
  3. Kerajaan Demak klik untuk melihat
  4. Kerajaan Makasar klik untuk melihat
  5. Kerajaan Mataram Islam klik untuk melihat
  6. Kerajaan Samudra Pasai klik untuk melihat
  7. Kerajaan Ternate klik untuk melihat
  8. Kerajaan Tidore klik untuk melihat