Monday, June 30, 2014

Perkembangan Kebudayaan Pada Masa Islam


“Hai guys,..... sejarah kelas x .blogspot.com kali ini akan membahas tentang perkembangan kebudayaan pada masa Islam masuk Ke Indonesia. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian semua dalam proses masuk dan berkembangnya agama serta kebudayaan Islam di Indonesia.”

Masuknya Islam membawa perubahan di berbagai bidang di Indonesia. Wujud akulturasi kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan Islam di antaranya tampak pada bidang berikut ini :

A.    Perkembangan Aksara dan Seni Sastra (Kesusastraan)

Masuknya agama dan budaya Islam di Indonesia sangat berpengaruh terhadap perkembangan seni aksara dan seni sastra di Nusantara. Aksara dan seni sastra Islam pada awal perkembangannya banyak dijumpai di wilayah sekitar selat Malaka dan Pulau Jawa, walaupun jumlah karya sastra dan bentuknya sangat terbatas.

1.  Aksara Masa Awal Islam

Tradisi tulis di Indonesia diawali dengan penemuan prasasti Kutai yang berhuruf Pallawa, India. Pada perkembangan berikutnya muncul aksara setempat yang berakar dari huruf Pallawa, yaitu aksara Jawa dan Bali. Pada awal perkembangan Islam di Indonesia aksara Arab digunakan dengan huruf Jawi (Melayu). Aksara-aksara tersebut makin menambah keanekaragman Tradisi tulis di Nusantara.

2. Seni Sastra Masa Awal Islam

Masuknya Islam dan penggunaan huruf Arab mampu mengembangkan seni sastra Islam di Indonesia. dilihat dari bentuknya, sastra Islam di Jawa berbentuk tembang (syair), sedangkan di Sumatra, selain bentuk syair juga ditemukan yang berbentuk gancaran (prosa). Syair Islam tertua di Indonesia terpahat di sebuah nisan makam seorang putri Raja Pasai di Minye Tujuh terdiri atas 2 bait, dan masing-masing bait berisi 4 baris.

Karya-karya sastra awal Islam antara lain Bustanul Salatin yang ditulis oleh Nuruddin ar Raniri, seorang ulama besar Aceh masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani. Hikayat Raja-Raja Pasai karangan Hamzah Fansuri, Pustakaraja, Jayabaya, Paramayoga, karangan R.Ng. Ronggowarsito. Sastra Gending, karangan Sultan Agung, dan masih banyak lagi karya sastra Islam lainnya yang tidak diketahui pengarangnya (anonim).

Selain bentuk karya sastra tersebut di atas, terdapat suluk, yaitu kitab yang bersifat magis dan berisi ramalan-ramalan, seperti misalnya Suluk Sukarsa (berisi pengalaman Ki Sukarsa mencari ilmu), Suluk Wijil (berisi wejangan-wejangan Sunan Bonang kepada Wijil), Syair Perahu, Syair Si Burung Pingai, dan sebagainya. Juga terdapat tarekat, yaitu jalan atau cara yang ditempuh kaum sufi untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Hal ini berkaitan dengan munculnya ajaran tasawuf di Indonesia. Contoh tarekat, antara lain Qadariyah, Naqsyabandiyah, Syaftariah, dan Rifa’iyah.

B.  Perkembangan Pendidikan

Perkembangan pendidikan pada masa Islam berjalan cukup pesat dibandingkan dengan masa Hindu. Hal itu disebabkan untuk penyebaran Islam salah satunya digunakan saluran pendidikan. Pada masa Islam, pengembangan pendidikan dilakukan dengan mendirikan pesantren. Murid pesantren disebut santri. Di pesantren para santri mendalami agama Islam dan beberapa pengetahuan tambahan untuk bekal hidup. Setelah menamatkan pelajaran para santri kembali ke tempat asal. Di tempat asal mereka diwajibkan untuk mengembangkan Islam. Pada masa pertumbuhan Islam di Jawa kita kenal Sunan Ampel atau Raden Rahmat yang mendirikan pesantren di Ampel, Surabaya dan Sunan Giri yang mendirikan pesantren hingga terkenal sampai Maluku.

C.   Perkembangan Seni Bangunan

Akulturasi kebudayaan Islam dengan kebudayaan Indonesia tampak pada seni bangunan, khususnya bangunan masjid dan makam.

1. Bangunan Masjid

Akulturasi antara kebudayaan Islam dan kebudayaan Indonesia, antara lain tampak pada seni arsitektur bangunan masjid kuno. Arsitektur masjid kuno di Indonesia itu menunjukkan ciri-ciri khusus yang berbeda dengan arsitektur masjid di negeri-negeri lainnya. Arsitektur masjid kuno di Indonesia masih menonjolkan gaya arsitektur pra-Islam. Hal ini terjadi karena bangunan masjid masih mendapat pengaruh Hindu–Buddha.

Kekhususan gaya arsitektur masjid kuno Indonesia, antara lain terdapat dalam bentuk atap bertingkat lebih dari satu.

Masjid kuno Indonesia yang mempunyai atap bertingkat merupakan kelanjutan dari seni bangunan tradisional Indonesia lama yang mendapat pengaruh Hindu–Buddha. Ada beberapa bukti yang mendukung pendapat itu, di antaranya Pertama, bangunan-bangunan Hindu di Bali yang disebut wantilan atapnya juga bertingkat, Kedua relief yang ada di candi-candi pada masa Majapahit juga menggambarkan bangunan atap bertingkat.

Beberapa contoh masjid kuno yang memiliki atap bertingkat, di antaranya sebagai berikut: Bangunan masjid beratap bertingkat satu, misalnya Masjid Agung Cirebon yang dibangun pada abad ke-16, Masjid Katangka di Sulawesi Selatan dari abad ke-17, beberapa masjid di Jakarta yang dibangun pada abad ke-18, seperti Masjid Angke, Masjid Tambora, dan Masjid Marunda. Bangunan masjid beratap bertingkat tiga di antaranya tampak pada Masjid Agung Demak dari abad ke-16, Masjid Baiturrachman Aceh yang dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda, Masjid Jepara, masjid-masjid di Ternate. Sedangkan bangunan masjid beratap bertingkat lima, misalnya Masjid Agung Banten yang dibangun pada abad ke-16.

2. Makam

Masuknya kebudayaan Islam juga berpengaruh besar terhadap bangunan makam. Bangunan makam pada orang yang meninggal terbuat dari bata yang disebut jirat atau kijing. Di atas jirat, khususnya bagi orang-orang penting didirikan sebuah rumah yang disebut cungkup. Makam para raja biasanya dibuat megah dan lengkap dengan makam keluarga serta pengiringnya. Dengan demikian, kompleks pemakaman merupakan gugusan kijing yang dikelompok- kan menurut hubungan keluarga. Antara makam keluarga satu dan keluarga lain dipisahkan oleh tembok yang dihubungkan dengan gapura. Di dalam kompleks pemakaman biasanya dibangun sebuah masjid sebagai pelengkapnya. Tempat pemakaman biasanya terdapat di atas bukit yang dibuat berundak-undak. Hal itu mengingatkan kita pada bangunan punden berundak pada zaman Hindu.

Bangunan makam yang berupa jirat dan cungkup biasanya dihiasi dengan seni kaligrafi (seni tulisan indah).

Makam tertua di Indonesia yang bercorak Islam adalah Makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik (1082). Makam tersebut bercungkup dan dinding cungkupnya diberi hiasan bingkai-bingkai mendatar mirip model hiasan candi.

D.   Perkembangan Seni Tari dan Seni Musik

Akulturasi pada cabang seni tari dan seni musik terdapat pada beberapa upacara dan tarian rakyat. Di beberapa daerah ada jenis tarian yang berhubungan dengan nyanyian atau pembacaan tertentu yang berupa salawat. Bentuk-bentuk tarian itu, misalnya permainan debus yaitu suatu jenis pertunjukkan kekebalan tubuh seseorang terhadap senjata tajam. Pertunjukkan debus diawali dengan nyanyian dan pembacaan Al-Qur’an atau salawat nabi. Permainan ini berkembang di bekas-bekas pusat kerajaan, seperti Banten, Minangkabau, dan Aceh. Berikutnya adalah Seudati yaitu tarian atau nyanyian tradisional rakyat Aceh. Pertunjukan ini dilakukan oleh sembilan sampai sepuluh orang pemuda. Gerakan tarian itu, antara lain berupa memukul-mukulkan telapak tangan ke bagian dada. Dalam tari Seudati, pemain juga menyanyikan lagu-lagu tertentu yang isinya pujian kepada nabi (salawat).

Selain seni tari, juga berkembang seni musik yang berupa pertunjukkan gamelan. Pertunjukkan ini biasa dilakukan pada upacara Maulud yang ditujukan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada upacara Maulud, selain dinyanyikan pujian-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. juga diadakan pertunjukkan gamelan dan pencucian benda-benda keramat. Upacara ini masih dilakukan di Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon. Upacara  Maulud di Yogyakarta dan Surakarta disebut Garebeg Maulud. Di Cirebon upacara Maulud biasa disebut Pajang Jimat. Pada upacara Maulud biasa diiringi dengan gamelan yang disebut Sekaten dan dipertunjukkan untuk masyarakat umum.

E.   Perkembangan Sistem Pemerintahan

Sebelum kebudayaan Islam datang, sistem pemerintahan pada kerajaan di Indonesia mendapat pengaruh budaya Hindu–Buddha. Setelah agama Islam masuk dan berkembang di Indonesia lambat laun berpengaruh juga terhadap sistem pemerintahan.

Sistem pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam terutama di Jawa bersifat kosmologis, artinya setiap masyarakat yakin adanya keserasian bumi dengan alam semesta yang mengelilinginya. Atas dasar kepercayaan tersebut, raja dianggap sebagai penjelmaan Tuhan di dunia yang memegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan.

Raja-raja di kerajaan Islam umumnya bergelar sultan. Kekuasaan raja terbesar berpusat di kota kerajaan. Kekuasaan itu akan makin mengecil jika daerah kekuasaan berada jauh dari ibu kota.

Sumber :
Sh. Musthofa, Suryandari, Tutik Mulyati. 2009. Sejarah 2 : Untuk SMA/ MA Kelas XI Program Bahasa. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Perkembangan Islam di Indonesia


“Hai guys,..... sejarah kelas x .blogspot.com kali ini akan membahas tentang materi perkembangan Islam di Indonesia. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian semua dalam proses masuk dan berkembangnya agama serta kebudayaan Islam di Indonesia .”

Sejak dahulu bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang ramah dan suka bergaul dengan bangsa lain. Oleh karena itu, banyak bangsa lain yang datang ke wilayah Nusantara untuk menjalin hubungan dagang. Ramainya perdagangan di Nusantara yang melibatkan para pedagang dari berbagai negara disebabkan melimpahnya hasil bumi dan letak Indonesia pada jalur pelayaran dan perdagangan dunia. Pada sekitar abad ketujuh, Selat Malaka telah dilalui oleh pedagang Islam dari India, Persia, dan Arab dalam pelayarannya menuju negara-negara di Asia Tenggara dan Cina. Melalui hubungan perdagangan tersebut, agama dan kebudayaan Islam masuk ke wilayah Indonesia. Pada abad kesembilan, orang-orang Islam mulai bergerak mendirikan perkampungan Islam di Kedah (Malaka), Aceh, dan Palembang.

Waktu kedatangan Islam di Indonesia masih ada perbedaan pendapat. Sebagian ahli menyatakan bahwa agama Islam itu masuk ke Indonesia sejak abad ke-7 sampai dengan abad ke-8 Masehi. Pendapat itu didasarkan pada berita dari Cina zaman Dinasti T’ang yang menyebutkan adanya orang-orang Ta Shih (Arab dan Persia) yang mengurungkan niatnya untuk menyerang Ho Ling di bawah pemerintahan Ratu Sima (674).

Sebagian ahli yang lain menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia baru abad ke-13. Pernyataan ini didasarkan pada masa runtuhnya Dinasti Abbassiah di Bagdad (1258).  Hal itu juga didasarkan pada berita dari Marco Polo (1292), berita dari Ibnu Batuttah (abad ke-14), dan Nisan Kubur Sultan Malik al Saleh (1297) di Samudera Pasai. Pendapat itu diperkuat dengan masa penyebaran ajaran tasawuf. Sebenarnya kita perlu memisahkan pengertian proses masuk dengan berkembangnya agama Islam di Indonesia, seperti berikut:
  1. masa kedatangan Islam (kemungkinan sudah terjadi sejak abad ke-7 sampai dengan abad ke-8 Masehi);
  2. masa penyebaran Islam (mulai abad ke-13 sampai dengan abad ke-16 Masehi, Islam menyebar ke berbagai penjuru pulau di Nusantara);
  3. masa perkembangan Islam (mulai abad ke-15 Masehi dan seterusnya melalui kerajaan-kerajaan Islam).

Terdapat berbagai pendapat pula mengenai negeri asal pembawa agama serta kebudayaan Islam ke Indonesia. Ada yang mengatakan bahwa kebudayaan dan agama Islam datang dari Arab, Persia, dan India (Gujarat dan Benggala). Akan tetapi, para ahli menitikberatkan bahwa golongan pembawa Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat (India Barat). Hal itu diperkuat dengan bukti- bukti sejarah berupa nisan makam, tata kehidupan masyarakat, dan budaya Islam di Indonesia yang banyak memiliki persamaan dengan Islam di Gujarat. Pembawanya adalah para pedagang, mubalig, dan golongan ahli tasawuf.

Ketika Islam masuk melalui jalur perdagangan, pusat-pusat perdagangan dan pelayaran di sepanjang pantai dikuasai oleh raja-raja daerah, para bangsawan, dan penguasa lainnya, misalnya raja atau adipati Aceh, Johor, Jambi, Surabaya, dan Gresik. Mereka berkuasa mengatur lalu lintas perdagangan dan menentukan harga barang yang diperdagangkan. Mereka itu yang mula-mula melakukan hubungan dagang dengan para pedagang muslim. Lebih-lebih setelah suasana politik di pusat Kerajaan Majapahit mengalami kekacauan, raja- raja daerah dan para adipati di pesisir ingin melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Oleh karena itu, hubungan dan kerja sama dengan pedagang- pedagang muslim makin erat. Dalam suasana demikian, banyak raja daerah dan adipati pesisir yang masuk Islam. Hal itu ditambah dengan dukungan dari pedagang-pedagang Islam sehingga mampu melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Setelah raja-raja daerah, adipati pesisir, para bangsawan, dan penguasa pelabuhan masuk Islam rakyat di daerah itu pun masuk Islam, contohnya Demak (abad ke-15), Ternate (abad ke-15), Gowa (abad ke-16), dan Banjar (abad ke-16).

Proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia berlangsung secara bertahap dan dilakukan secara damai sehingga tidak menimbulkan ketegangan sosial. Cara penyebaran agama dan kebudayaan Islam di Indonesia melalui berbagai saluran berikut ini :

1. Saluran Perdagangan

Saluran yang digunakan dalam proses islamisasi di Indonesia pada awalnya melalui perdagangan. Hal itu sesuai dengan perkembangan lalu lintas pelayaran dan perdagangan dunia yang ramai mulai abad ke-7 sampai dengan abad ke- 16, antara Eropa, Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Cina.

Proses islamisasi melalui saluran perdagangan ini dipercepat oleh situasi politik beberapa kerajaan Hindu pada saat itu, yaitu adipati-adipati pesisir berusaha melepaskan diri dari kekuasaan pemerintah pusat di Majapahit. Pedagang-pedagang muslim itu banyak menetap di kota-kota pelabuhan dan membentuk perkampungan muslim. Salah satu contohnya adalah Pekojan.

2. Saluran Perkawinan

Kedudukan ekonomi dan sosial para pedagang yang sudah menetap makin baik. Para pedagang itu menjadi kaya dan terhormat, tetapi keluarganya tidak dibawa serta. Para pedagang itu kemudian menikahi gadis-gadis setempat dengan syarat mereka harus masuk Islam. Cara itu pun tidak mengalami kesulitan. Saluran islamisasi lewat perkawinan ini lebih menguntungkan lagi apabila para saudagar atau ulama Islam berhasil menikah dengan anak raja atau adipati. Kalau raja atau adipati sudah masuk Islam, rakyatnya pun akan mudah diajak masuk Islam.

Misalnya, perkawinan Maulana Iskhak dengan putri Raja Blambangan yang melahirkan Sunan Giri; perkawinan Raden Rahmat (Sunan Ngampel) dengan Nyai Gede Manila, putri Tumenggung Wilatikta; perkawinan putri Kawunganten dengan Sunan Gunung Jati di Cirebon; perkawinan putri Adipati Tuban (R.A. Teja) dengan Syekh Ngabdurahman (muslim Arab) yang melahirkan Syekh Jali (Jaleluddin).

3. Saluran Tasawuf

Tasawuf adalah ajaran ketuhanan yang telah bercampur dengan mistik dan hal-hal magis. Oleh karena itu, para ahli tasawuf biasanya mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan menyembuhkan. Kedatangan ahli tasawuf ke Indonesia diperkirakan sejak abad ke-13, yaitu masa perkembangan dan penyebaran ahli-ahli tasawuf dari Persia dan India yang sudah beragama Islam.

Bersamaan dengan perkembangan tasawuf, para ulama dalam mengajarkan agama Islam di Indonesia menyesuaikan dengan pola pikir masyarakat yang masih berorientasi pada agama Hindu dan Buddha sehingga mudah dimengerti. Itulah sebabnya, orang Jawa begitu mudah menerima agama Islam. Tokoh- tokoh tasawuf yang terkenal, antara lain Hamzah Fansyuri, Syamsuddin as Sumatrani, Nur al Din al Raniri, Abdul al Rauf, Sunan Bonang, Syekh Siti Jenar, dan Sunan Panggung.

4. Saluran Pendidikan

Lembaga pendidikan Islam yang paling tua adalah pesantren. Murid- muridnya (santri) tinggal di dalam pondok atau asrama dalam jangka waktu tertentu menurut tingkatan kelasnya. Pengajarnya adalah para guru agama (kiai atau ulama). Para santri itu jika sudah tamat belajar, pulang ke daerah asal dan mempunyai kewajiban mengajarkan kembali ilmunya kepada masyarakat di sekitar. Dengan cara itu, Islam terus berkembang memasuki daerah-daerah terpencil.

Pesantren yang telah berdiri pada masa pertumbuhan Islam di Jawa, antara lain Pesantren Sunan Ampel di Surabaya yang didirikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Pesantren Sunan Giri yang santrinya banyak berasal dari Maluku (daerah Hitu). Raja-raja dan keluarganya serta kaum bangsawan biasanya mendatangkan kiai atau ulama untuk menjadi guru dan penasihat agama.

Misalnya, Kiai Ageng Selo adalah guru Jaka Tingkir; Kiai Dukuh adalah guru Maulana Yusuf di Banten; Maulana Yusuf adalah penasihat agama Sultan Ageng Tirtayasa.

5. Saluran Seni dan Budaya

Berkembangnya agama Islam dapat melalui seni budaya, misalnya seni bangunan (masjid), seni pahat (ukir), seni tari, seni musik, dan seni sastra. Seni bangunan masjid, mimbar, dan ukir-ukirannya masih menunjukkan seni tradisional bermotifkan budaya Indonesia–Hindu, seperti yang terdapat pada candi-candi Hindu atau Buddha. Hal itu dapat dijumpai di Masjid Agung Demak, Masjid Sendang Duwur Tuban, Masjid Agung Kasepuhan Cirebon, Masjid Agung Banten, Masjid Baiturrahman Aceh, dan Masjid Ternate. Pintu gerbang pada kerajaan Islam atau makam orang-orang yang dianggap keramat menunjukkan bentuk candi bentar dan kori agung. Begitu pula, nisan-nisan makam kuno di Demak, Kudus, Cirebon, Tuban, dan Madura menunjukkan budaya sebelum Islam. Hal itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Islam tidak meninggalkan seni budaya masyarakat yang telah ada, tetapi justru ikut memeliharanya. Seni budaya yang tetap dipelihara dalam rangka proses islamisasi itu banyak sekali, antara lain perayaan Garebek Maulud (Sekaten) di Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon.

Islamisasi juga dilakukan melalui pertunjukkan wayang yang telah dipoles dengan unsur-unsur Islam. Menurut cerita, Sunan Kalijaga juga pandai memainkan wayang. Islamisasi melalui sastra ditempuh dengan cara meyadur buku-buku tasawuf, hikayat, dan babad ke dalam bahasa pergaulan (Melayu).

6. Saluran Dakwah

Gerakan penyebaran Islam di Jawa tidak dapat dipisahkan dengan peranan Wali Sanga. Istilah wali adalah sebutan bagi orang-orang yang sudah mencapai tingkat pengetahuan dan penghayatan agama Islam yang sangat dalam dan sanggup berjuang untuk kepentingan agama tersebut. Oleh karena itu, para wali menjadi sangat dekat dengan Allah sehingga mendapat gelar Waliullah (orang yang sangat dikasihi Allah). Sesuai dengan zamannya, wali-wali itu juga memiliki kekuatan magis karena sebagian wali juga merupakan ahli tasawuf.

Para Wali Sanga yang berjuang dalam penyebaran agama Islam di berbagai daerah di Pulau Jawa adalah sebagai berikut :
a.       Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
b.      Sunan Ampel
c.       Sunan Drajad
d.      Sunan Bonang
e.      Sunan Giri
f.        Sunan Kalijaga
g.       Sunan Kudus
h.      Sunan Muria
i.         Sunan Gunung Jati

Sumber :
Sh. Musthofa, Suryandari, Tutik Mulyati. 2009. Sejarah 2 : Untuk SMA/ MA Kelas XI Program Bahasa. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.