Monday, June 30, 2014

Kerajaan Banten


“Hai guys,..... sejarah kelas x .blogspot.com kali ini akan membahas tentang Kerajaan Islam yang berkembang di Indonesia : Kerajaan Banten. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian semua dalam proses masuk dan berkembangnya agama serta kebudayaan Islam di Indonesia.”

Semula Banten menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Rajanya (Samiam) mengadakan hubungan dengan Portugis di Malaka untuk memben- dung meluasnya kekuasaan Demak. Oleh karena itu, Sultan Trenggana dari Demak mengutus Faletehan untuk merebut Banten. Usaha itu berhasil secara gemilang. Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon jatuh ke tangan Faletehan. Sejak saat itu, agama Islam berkembang cepat di Jawa Barat. Banten segera tumbuh menjadi pelabuhan penting di Selat Sunda setelah Malaka jatuh ke tangan Por- tugis (1511). Hal itu disebabkan pedagang dari Gujarat, India, Timur Tengah, dan Arab enggan berlabuh di Malaka setelah dikuasai Portugis.

Pada tahun 1552 Faletehan menyerahkan pemerintahan Banten kepada putranya,  Hasanuddin. Faletehan kemudian pergi ke Cirebon untuk meluaskan pemerintahan dan mengajarkan agama Islam hingga wafat tahun 1570. Faletehan dimakamkan di Bukit Gunung Jati sehingga terkenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati. Di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin (1552–1570), Banten cepat berkembang menjadi besar. Wilayahnya meluas sampai ke Lampung, Bengkulu, dan Palembang.

A. Aspek Kehidupan Politik

Pada masa pemerintahan Maulana Yusuf, keadaan Banten aman dan tenteram karena kehidupan masyarakatnya diperhatikan. Misalnya, sultan melaksanakan pembangunan kota, membuat benteng, dan membangun istana. Bidang pertanian juga diperhatikan, misalnya dengan membangun saluran- saluran irigasi. Dengan demikian, kehidupan sosial masyarakatnya dapat lebih baik.

Sultan Maulana Yusuf mangkat pada tahun 1580. Sesaat sebelum mangkat, saudaranya yang mendapat pendidikan di Istana Kalinyamat (Jepara) datang bermaksud menggantikan takhtanya. Namun, keinginan itu tentu saja ditolak oleh para pembesar Kerajaan Banten. Akibatnya, terjadi pertempuran sengit memperebutkan takhta kerajaan. Para pengawal dari Jepara terdesak dan maksud mereka gagal. Setelah peristiwa itu, putra Sultan Maulana Yusuf, Maulana Muhammad yang baru berusia sembilan tahun, diangkat menjadi raja dengan gelar Ratu Banten di bawah perwalian Mangkubumi.

Masa pemerintahan Sultan Maulana Muhammad berlangsung tahun 1580– 1605. Pada masa itulah pedagang Belanda pertama kali tiba di Banten (1596). Pada tahun 1605 Sultan Banten memimpin armadanya merebut Palembang, tetapi gagal. Bahkan, ia sendiri tewas dalam pertempuran di Palembang. Penggantinya adalah Abdulmufakir yang masih kanak-kanak. Abdulmufakir dalam menjalani pemerintahan didampingi wali, yaitu Ranamenggala. Selama pemerintahan Ranamenggala, perdagangan di Banten berkembang pesat. Para pedagang muslim tidak lagi berdagang di Malaka, tetapi ke Banten. Hal itu disebabkan Malaka jatuh ke tangan Portugis. Setelah Pangeran Ranamenggala wafat pada tahun 1624, Banten mengalami kemunduran. Banten mencapai puncak kejayaan kembali pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.

B. Bidang Sosial Budaya dan Ekonomi

Banten tumbuh menjadi pusat perdagangan dan pelayaran yang ramai kare- na menghasilkan lada dan pala yang banyak. Pedagang Cina, India, Gujarat, Persia, dan Arab setelah berlabuh di Aceh, banyak yang meneruskan pelayaran- nya melalui pantai barat Sumatra menuju Banten. Pedagang dari Kalimantan, Makassar, Nusa Tenggara, dan Maluku juga banyak yang datang ke Banten. Dengan demikian, Banten menjadi saingan berat bagi Malaka dalam perdagangan. Karena pada saat itu situasi politik dan pemerintahan di Demak kacau, Hasanuddin melepaskan diri dari kekuasaan Demak. Sejak Banten menjadi kerajaan yang bercorak Islam, kehidupan sosial masyarakat Banten juga secara perlahan dipengaruhi oleh sistem kemasyarakatan Islam. Pengaruh tersebut tidak terbatas di lingkungan daerah perdagangan, tetapi meluas hingga ke pedalaman.

Sultan Hasanuddin mangkat pada tahun 1570 dan digantikan oleh putranya, Maulana Yusuf. Sultan Maulana Yusuf memperluas daerah kekuasaannya ke pedalaman. Pada tahun 1579 kekuasaan Kerajaan Pajajaran dapat ditaklukkan, ibu kotanya direbut, dan rajanya yang bernama Prabu Sedah tewas dalam pertempuran. Sejak saat itu tamatlah riwayat kerajaan Hindu di Jawa Barat.

Sumber :
Sh. Musthofa, Suryandari, Tutik Mulyati. 2009. Sejarah 2 : Untuk SMA/ MA Kelas XI Program Bahasa. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.


Materi lainnya : (klik untuk melihat)

No comments:

Post a Comment