Tuesday, June 24, 2014

Kerajaan Kutai Martadipura


“Hai guys,..... sejarah kelas x .blogspot.com kali ini akan perkembangan Kerajaan Kutai Martadipura sebagai salah satu Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian semua mengetahui dan mengenal kerajaan Kutai Martadipura sebagai salah satu Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia .”

Kutai Martadipura adalah kerajaan bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua. Berdiri sekitar abad ke-4. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diberikan oleh para ahli mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menunjukan eksistensi kerajaan tersebut. tidak ada prasasti yang secara jelas menyabutkan nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh.

Keberadaan kerajanaan tersebut diketahui berdasarkan sumber berita yang ditemukan, yaitu berupa prasasti yang berbentuk yupa/ tiang batu yang berjumlah 7 buah. Yupa yang menggunakna huruf palawa dan bahasa sansakerta tersebut, berisikan tentang keberadaan kerajaan kutai dalam berbagai aspek kebudayaan, antara lain politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Adapun isi prasasti tersebut menyatakan bahwa raja pertama kerajaan Kuta bernama kunduga. Ia memunyai seorang putra bernama Asmarawarman yang disebut sebagai wamsakerta (pembentuk keluarga). Setelah meninggal, Asmarawarman digantikan oleh Mulawarman. Penggunaan nama Asmarawarman dan nama-nama raja pada generasi berikutnya menunjukan telah masuknya pengaruh ajaran hindu dalam kerajaan Kutai dan hal tersebut membuktikan bahwa raja-raja Kutai adalah orang Indonesia asli yang telah memeluk agama hindu.

Bidang Politik

Keterlibatan Indonesia dengan dunia luar telah dimulai sejak abad pertama Masehi. Mereka telah mengadakan komunikasi, hubungan dagang, dan diduga juga ada yang menikah dengan orang-orang India. Pernikahan menyebabkan orang-orang India menetap di wilayah Indonesia dan mulailah terjadi perubahan.

Pengaruh datangnya kebudayaan India terutama kebudayaan Hindu menyebabkan Kutai yang semula merupakan kelompok masyarakat yang berbentuk suku berubah sistem pemerintahannya. Kepala pemerintahannya yang semula seorang kepala suku berubah menjadi raja. Bukti yang menunjukkan adanya pengaruh India dalam kelompok masyarakat Kutai adalah penggunaan nama yang berunsurkan India pada salah satu pemimpin mereka dalam salah satu prasasti peninggalannya.

Satu-satunya bukti yang dapat digunakan untuk menguak sejarah kerajaan Kutai sebagai kerajaan Hindu tertua di Indonesia, adalah ditemukannya 7 buah prasasti yupa yang diperkirakan berasal dari sekitar tahun 400M/abad 5M. Yupa adalah tugu batu peringatan dan tempat menambatkan hewan kurban dalam upacara-upacara kurban Hindu. Tulisan di yupa berhuruf Pallawa, berbahasa Sanskerta.

Pada salah satu prasasti yang ditemukan disebutkan bahwa Raja Kutai yang memerintah adalah Mulawarman, anak Aswawarman, cucu Kudungga. Berdasarkan analisis Prof. Dr. Purbacaraka, Kudungga adalah nama asli Indo- nesia. Dengan demikian, pada saat Kudungga memerintah, diduga pengaruh kebudayaan dari India belum datang. Namun, pada saat Aswawarman mulai memerintah tampaknya pengaruh Hindu mulai datang. Terbukti pada salah satu prasasti yang ditemukan, Aswawarman disebut Wangsakarta yang merupa- kan bahasa Sanskerta dari India. Wangsakarta berarti pembentuk keluarga.

Bidang Sosial Budaya

Masyarakat Kutai mulai mengenal tulisan dan kebudayaan dari luar karena pengaruh agama Hindu. Dengan demikian, Bangsa Indonesia sudah mengakhiri zaman Prasejarah dan mulai memasuki zaman sejarah sebab masyarakat Kutai sebagai bagian dari Indonesia telah mengenal kebudayaan tertulis.

Bukti yang mendukung pernyataan tersebut adalah penemuan 7 buah yupa yang bertuliskan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Tulisan yang dipahat di yupa adalah tulisan yang lazim digunakan oleh kaum Brahmana di India Selatan.

Prasasti peninggalan Kerajaan Kutai yang ditulis menggunakan huruf Pallawa dan dalam bahasa Sanskerta memberi petunjuk bahwa ada sebagian penduduk Kutai yang hidup dalam suasana peradaban India. Bahasa Sanskerta bukanlah bahasa rakyat biasa, tetapi biasa digunakan oleh para brahmana. Kemungkinan di Kutai pun bahasa Sanskerta digunakan oleh para brahmana. Dengan demikian, para brahmana kemungkinan juga telah menjadi kelompok masyarakat tertentu di Kutai.

Kelompok masyarakat lain yang muncul akibat pengaruh kebudayaan In- dia adalah kelompok ksatria. Di Kutai, kelompok ksatria terdiri atas kerabat Mulawarman atau terbatas pada orang-orang yang erat hubungannya dengan raja. Masyarakat di luar kelompok brahmana dan ksatria masih hidup dalam suasana dan tradisi asli nenek moyang masyarakat Kutai.

Bidang Ekonomi

Tidak begitu banyak keterangan yang didapat mengenai kegiatan ekonomi masyarakat di Kerajaan Kutai. Namun, diperkirakan mereka hidup dari hasil pertanian dan peternakan. Kemungkinan hidup dari hasil pertanian didasarkan pada letak Kerajaan Kutai juga berada di pedalaman Kalimatan dan dekat aliran Sungai Mahakam. Kehidupan peternakan juga menjadi andalan hidup mereka mengingat seringnya raja mengadakan upacara persembahan. Misalnya, raja pernah menghadiahkan 20.000 ekor sapi kepada para brahmana. Di Kerajaan Kutai sering juga dilakukan upacara Asmawedha atau upacara pelepasan kuda untuk menentukan batas-batas wilayah kerajaan.

Tentang  prasasti Yupa

Prasasti Yupa
Informasi yang ada diperoleh dari Yupa/ prasasti dalam upacara pengorbanan yang berasal dari abad ke-4. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan yang dibuat oleh para brahman atas kedermawanan raja Mulawarman. Dalam agama hindu sapi tidak disembelih seperti kurban yang dilakukan umat islam. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Dapat diketahui bahwa menurut Buku Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno yang ditulis oleh Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto yang diterbitkan oleh Balai Pustaka halaman 36, transliterasi prasasti diatas adalah sebagai berikut:

“śrīmatah śrī-narendrasya; kuṇḍuṅgasya mahātmanaḥ; putro śvavarmmo vikhyātah; vaṅśakarttā yathāṅśumān; tasya putrā mahātmānaḥ; trayas traya ivāgnayaḥ; teṣān trayāṇām pravaraḥ; tapo-bala-damānvitaḥ; śrī mūlavarmmā rājendro; yaṣṭvā bahusuvarṇnakam; tasya yajñasya yūpo ‘yam; dvijendrais samprakalpitaḥ.”

Yang artinya :
“Sang Mahārāja Kundungga, yang amat mulia, mempunyai putra yang mashur, Sang Aśwawarmman namanya, yang seperti Angśuman (dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aśwawarmman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci). Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mūlawarmman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang Mūlawarmman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan) emas-amat-banyak. Untuk peringatan kenduri (selamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para brahmana.”

Mulawarman adalah anak Asmarawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan Asmarawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa sansakerta bila dilihat dari cara penulisannya. Kundungga adalah pembesar dari kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Indonesia. Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Hindu.

Aswawarman adalah Anak Raja Kudungga.Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman. Putra Aswawarman adalah Mulawarman. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur.

Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, hingga sangat sedikit yang mendengar namanya.

Sumber :
Sh. Musthofa, Suryandari, Tutik Mulyati. 2009. Sejarah 2 : Untuk SMA/ MA Kelas XI Program Bahasa. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

No comments:

Post a Comment