Monday, June 30, 2014

Masuk dan Berkembangnya Agama serta Kebudayaan Hindu–Buddha di Indonesia


“Hai guys,..... sejarah kelas x .blogspot.com kali ini akan membahas tentang materi ,asuk dan berkembangnya agama serta kebudayaan hindu-budha di Indonesia. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian semua dalam proses masuk dan berkembangnya agama serta kebudayaan hindu-budha di Indonesia .”

Secara geografis, Indonesia terletak di antara dua benua dan dua samudera. Dengan didukung melimpahnya kekayaan alam tropis Indonesia, banyak bangsa lain yang membeli berbagai hasil kekayaan alam Indonesia sekaligus juga berjualan berbagai barang dari negeri mereka sehingga menjadi persimpangan lalu lintas dunia. Dengan demikian, terjadilah hubungan dagang dengan dunia luar, terutama dengan India dan Cina.

Orang India diperkirakan telah mengenal Indonesia sejak sebelum Masehi. Hal itu dibuktikan dalam kitab Ramayana terdapat nama Jawadwipa (jawa berarti jawawut atau beras; dwipa berarti pulau). Di samping itu, ada lagi nama Suwarnadwipa (suwarna berarti emas; dwipa berarti pulau). Tentu yang dimaksudkan Jawadwipa adalah Pulau Jawa (karena gudangnya beras), sedangkan yang dimaksudkan Suwarnadwipa adalah Sumatra (karena banyak menghasilkan emas). Perhatian India terhadap Indonesia makin bertambah ketika pada abad ke-2 Masehi, India kekurangan persediaan emas. Hal itu terjadi karena berkurangnya tambang-tambang emas yang ada di India serta terganggunya jalur darat yang membawa emas dari Asia Tengah. Bangsa Yunani–Romawi membayar rempah-rempah serta barang-barang lainnya dari India dengan emas dan perak. Perhiasan manik-manik dari kaca dan batu sebagai barang perdagangan India kemungkinan telah sampai di Indonesia pada abad akhir sebelum Masehi. Hubungan India–Indonesia makin lama makin ramai sehingga melahirkan pusat perdagangan dan pelabuhan di berbagai daerah pantai di Nusantara. Pada abad ke-5 berkembang pusat perdagangan di Sumatra bagian tengah, menyusul Sriwijaya, Gresik, Tuban, dan Jepara.

Dalam berdagang, bangsa Indonesia kemungkinan juga berlaku aktif. Artinya, pedagang Indonesia juga aktif mendatangi pelabuhan-pelabuhan dagang di negeri lain, seperti India dan Cina. Hal itu didasari kemampuan berlayar bangsa Indonesia mengarungi samudera telah dibuktikan sejak lama. Kemampuan berlayar dengan menggunakan perahu sederhana itu digambarkan dengan jelas pada relief Candi Borobudur (850 M).

Hubungan dagang antara Cina dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan (India), Timur Tengah, dan Eropa sebenarnya telah dimulai sejak awal tahun Masehi. Jalur perdagangan di Asia itu pada awalnya melalui daratan yang disebut Jalan Sutra. Disebut Jalan Sutra karena barang utama yang diperdagangkan pada masa itu adalah sutra dari Cina yang terkenal sangat halus. Pada awalnya, Jalan Sutra ini melalui Asia bagian utara. Namun, jalur utara dirasakan kurang aman karena gangguan perampok dan kondisi alam sehingga dialihkan ke jalur tengah. Jadi, jalan perdagangannya meliputi Cina, India, Persia, Mesopotamia, sampai ke Mediterania. Karena biayanya dirasa mahal dan keamanan tetap tidak terjamin jalur perdagangan dialihkan lewat laut. Jalur perdagangan yang melewati laut menyusuri wilayah Indonesia melalui Selat Malaka, Laut Jawa, Selat Makassar, dan Selat Sunda.

Tentang jalur sutra

Jalur Sutra darat dan laut
Jalan Sutra adalah salah satu jalur penting bagi penyebarluasan peradaban zaman kuno Tiongkok ke Barat, sekaligus jembatan yang menghubungkan pertukaran ekonomi dan kebudayaan Tiongkok-Barat.

Jalan Sutra yang lazim disebut orang adalah jalur darat dari Chang’an, ibukota Dinasti Tang Tiongkok di timur ke Roma, ibukota Italia di barat. Jalur itu dibuka oleh seorang jenderal bernama Zhang Qian. Di samping jalur utama, Jalan Sutra itu mempunyai dua anak jalur yang masing-masing terletak di bagian utara dan selatan. Di antaranya, jalur selatan bertolak dari Dunhuang, Propinsi Gansu Tiongkok Barat Laut terus menuju ke barat menyusuri jalan di kaki Pegunungan Kunlun terus sampai ke Xinjiang, Tiongkok Barat Laut dan bagian timur laut Afghanistan, Iran dan Semenanjung Arab sebelum mencapai Roma, Italia. Sedangkan Jalan Sutra sektor utara dimulai dari Benteng Yumen, Dunhuang terus ke barat menyusuri jalan di kaki selatan Gunung Tianshan. Setelah melewati Gunung Chongling, Jalan Sutra Utara itu memasuki wilayah Rusia di bagian Asia Tengah, kemudian jalan itu membelok ke barat daya untuk bergabung dengan Jalan Sutra sektor selatan. Kedau jalur Jalan Sutra itu disebut sebagai “Jalan Sutra Darat”.

Selain itu masih ada dua jalan sutra yang jarang diketahui orang. Salah satu di antaranya ialah “Jalan Sutra Barat Daya” yang bertolak dari Propinsi Sichuan, Tiongkok Baratdaya terus ke Propinsi Yunnan dan mencapai bagian utara Myanmar setelah menyeberang sebuah sungai, kemudian jalan sutra itu menuju bagian timur laut India sebelum memasuki bagian barat laut India dengan menyusuri Sungai Gangga India sebelum tiba di Dataran Tinggi Iran. Jalan Sutra itu bersejarah lebih lama daripada Jalan Sutra Darat. Tahun 1986, para arkeolog menemukan petilasan Sanxingdui yang misterius di Guanghan, Propinsi Sichuan. Di petilasan yang sejarahnya dapat dilacak sampai tiga ribu tahun yang lalu, ditemukan sekelompok benda budaya yang berhubungan dengan kebudayaan Asia Barat dan Yunani. Di antaranya terdapat sebuah tongkat emas yang panjangnya 142 sentimer, sebatang “pohon dewa” dengan ketinggian 4 meter dan patung manusia tembaga, kepala tembaga dan maskot tembaga. Para ahli berpendapat bahwa benda-benda budaya itu mungkin memasuki Tiongkok dalam pertukaran kebudayaan antara Timur dan Barat. Apabila pandangan itu benar, maka jalan sutra itu dapat dikatakan sudah terbentuk jauh pada tiga ribu tahun yang lalu.

Selain jalan-jalan sutra di darat itu, masih terdapat satu lagi jalan sutra di atas laut, yaitu dari Guangzhou, Tiongkok Selatan ke Selat Malaka, dan terus sampai ke Sri Lanka, India dan pantai timur Afrika. Jalur di atas laut itu disebut sebagai Jalan Sutra Laut. Menurut benda-benda budaya yang tergali di Somalia, Afrika Timur, dapat diketahui bahwa Jalan Sutra Laut itu kira-kira terjadi pada masa Dinasti Song Tiongkok.

“Jalan Sutra Laut” menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara utama peradaban zaman kuno dan sumber kebudayaan di dunia, dan mendorong maju pertukaran ekonomi dan kebudayaan daerah tersebut. Maka Jalan Sutra Laut juga dijuluki sebagai jalan dialog antara Timur dan Barat. Menurut catatan sejarah, Marco Polo dari Italia justru berkunjung ke Tiongkok dari Jalan Sutra Laut. Dalam perjalannya kembali ke Italia dengan naik kapal, ia pun bertolak dari Quanzhou, Propinsi Fujian Tiongkok Tenggara dengan menyusuri jalan tersebut.

Bersamaan dengan berkembangnya hubungan dagang, masuk pula kebudayaan India ke Indonesia. Proses masuknya pengaruh kebudayaan India pada umumnya disebut penghinduan oleh para ahli sejarah. Penggunaan istilah penghinduan harus ekstra hati-hati. Hal itu disebabkan pengaruh yang masuk ke Indonesia bukan hanya pengaruh kebudayaan Hindu, tetapi juga pengaruh agama Buddha. Pada kenyataannya, di Indonesia keduanya tumbuh dalam bentuk sinkretisme Syiwa–Buddha.

Sumber :
Sh. Musthofa, Suryandari, Tutik Mulyati. 2009. Sejarah 2 : Untuk SMA/ MA Kelas XI Program Bahasa. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

1 comment:

  1. http://kreasimasadepan441.blogspot.co.id/2017/12/kevinmarcus-juara-ciptakan-rekor-super.html
    http://kreasimasadepan441.blogspot.co.id/2017/12/susi-ikut-pusing-pikirkan-posisi.html
    http://kreasimasadepan441.blogspot.co.id/2017/12/berkat-pltd-pulau-terdepan-selat-nasik.html

    Tunggu Apa Lagi Guyss..
    Let's Join With Us At vipkiukiu .net ^^
    Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami :
    - BBM : D8809B07 / 2B8EC0D2
    - WHATSAPP : +62813-2938-6562
    - LINE : DOMINO1945.COM

    ReplyDelete