Wednesday, June 25, 2014

Nilai-Nilai Peninggalan Budaya Hindu Buddha di Indonesia


“Hai guys,..... sejarah kelas x .blogspot.com kali ini akan Nilai-Nilai Peninggalan Budaya Hindu Budha di Indonesia. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian semua mengetahui dan memahami nilai-nilai peninggalan budaya hindu budha di Indonesia.”

1. Struktur Sosial

Pada masa perkembangan kebudayaan Hindu Budha, masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh agama dan kebudayaan Hindu Buddha dari India. Budaya Hindu, India mengenal sistem kasta dalam struktur sosialnya. Hal ini berpengaruh juga terhadap struktur sosial masyarakat Indonesia. Pada masa perkembangan kebudayaan Hindu Buddha, masyarakat Indonesia juga terbagi dalam beberapa kasta berdasarkan status sosial mereka. Raja dan bangsawan menduduki status sosial tinggi, juga kaum pendeta. Pedagang, petani menduduki tingkat status sosial rendah. Kalau di Indonesia sistem kastanya berdasarkan status sosial, di India sistem kastanya didasarkan atas keturunan.

2. Perdagangan dan Pelayaran

Wilayah Indonesia merupakan gugusan kepulauan yang jumlahnya sangat banyak. Antara pulau satu dan lainnya dipisahkan oleh laut dan selat yang pada umumnya tidak begitu dalam. Bangsa Indonesia sejak dahulu terkenal sebagai pelaut ulung. Pelayaran bangsa Indonesia telah dibuktikan sejak zaman Prasejarah, yaitu sejak terjadi perpindahan penduduk dari daerah Yunan atau daerah sekitar Teluk Tonkin menyebar ke daerah pulau-pulau di sebelah selatan daratan Asia sekitar tahun 2000–300 SM. Dengan menggunakan perahu bercadik, mereka mampu mengarungi perairan laut yang sangat luas hingga sampai ke wilayah Indonesia. Mereka itulah yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia. Bahkan, mereka juga berlayar sampai ke Pulau Madagaskar, sebelah timur Afrika.

Di wilayah Nusantara yang sangat luas terdapat perbedaan iklim. Wilayah Indonesia bagian barat lebih banyak turun hujan, sedangkan di bagian timur agak kering. Perbedaan iklim di berbagai wilayah tersebut mengakibatkan perbedaan hasil kekayaan alam. Karena perbedaan itu, sejak dahulu di wilayah Indonesia telah berkembang pelayaran dan perdagangan antar pulau dan antar daerah. Perdagangan dan pelayaran antar pulau dan antar daerah makin berkembang setelah di Indonesia berdiri kerajaan kuno sekitar abad ke-5, lebih- lebih pada masa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7.

3. Bahasa

Wilayah Indonesia merupakan gugusan kepulauan yang jumlahnya sangat banyak. Antara pulau satu dan lainnya dipisahkan oleh laut dan selat yang pada umumnya tidak begitu dalam. Bangsa Indonesia sejak dahulu terkenal sebagai pelaut ulung. Pelayaran bangsa Indonesia telah dibuktikan sejak zaman Prasejarah, yaitu sejak terjadi perpindahan penduduk dari daerah Yunan atau daerah sekitar Teluk Tonkin menyebar ke daerah pulau-pulau di sebelah selatan daratan Asia sekitar tahun 2000–300 SM. Dengan menggunakan perahu bercadik, mereka mampu mengarungi perairan laut yang sangat luas hingga sampai ke wilayah Indonesia. Mereka itulah yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia. Bahkan, mereka juga berlayar sampai ke Pulau Madagaskar, sebelah timur Afrika. Di wilayah Nusantara yang sangat luas terdapat perbedaan iklim. Wilayah Indonesia bagian barat lebih banyak turun hujan, sedangkan di bagian timur agak kering. Perbedaan iklim di berbagai wilayah tersebut mengakibatkan perbedaan hasil kekayaan alam. Karena perbedaan itu, sejak dahulu di wilayah Indonesia telah berkembang pelayaran dan perdagangan antarpulau dan antardaerah. Perdagangan dan pelayaran antarpulau dan antardaerah makin berkembang setelah di Indonesia berdiri kerajaan kuno sekitar abad ke-5, lebih- lebih pada masa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7.

Pada masa perkembangan kebudayaan Hindu Budha, bahasa Sanskerta yang berasal dari India juga digunakan oleh golongan kecil kaum Brahmana dan raja-raja dalam menulis prasasti.

Penggunaan bahasa Melayu telah diketahui sejak zaman Sriwijaya dalam prasastinya. Bahasa Melayu makin lama makin berkembang dan tersebar ke beberapa daerah pesisir Kepulauan Indonesia. Penyebaran bahasa Melayu disebabkan hubungan lalu lintas perdagangan dan pelayaran yang ramai pada saat itu. Sebelum itu mereka menggunakan bahasa daerah yang mereka miliki. Bahasa Melayu banyak digunakan oleh para pedagang dari berbagai daerah sehingga mempermudah komunikasi antar sesama pedagang dari berbagai daerah.

Ramainya perdagangan di sekitar Selat Malaka yang merupakan pusat kebudayaan dan bahasa Melayu mempercepat proses penyebaran bahasa Melayu ke berbagai  penjuru Tanah Air. Pusat perdagangan yang terletak di daerah pesisir mulai mengenal bahasa Melayu, bahkan makin meluas ke daerah pedalaman. Akibatnya, bahasa Melayu menjadi alat komunikasi antar suku bangsa. Bahasa Melayu makin meluas penggunaannya sebagai alat komunikasi antar kerajaan di Indonesia. Melalui perdagangan itulah, bahasa Melayu yang sekarang kita kenal sebagai bahasa Indonesia meluas menjadi bahasa umum yang dipakai sebagai bahasa pergaulan (lingua franca).

Bangsa Indonesia yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan mulai menyadari bahwa mereka dahulu berasal dari satu nenek moyang. Nenek moyang bangsa Indonesia adalah bangsa Austronesia.

Kebudayaan yang dibawa bangsa Austronesia ke Indonesia dinamakan kebudayaan Indonesia yang menjadi dasar perkembangan kebudayaan selanjutnya sampai dewasa ini.

Sumber :
Sh. Musthofa, Suryandari, Tutik Mulyati. 2009. Sejarah 2 : Untuk SMA/ MA Kelas XI Program Bahasa. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

No comments:

Post a Comment